
MEPANGA– Jagat media sosial baru-baru ini diramaikan oleh unggahan dari akun Facebook Echaa S terkait kekecewaannya terhadap pelayanan di RSUD Raja Tombolotutu Tinombo.

Unggahan tersebut menyoroti penanganan medis almarhumah adiknya, Aulia Nursyifa, sebelum akhirnya dirujuk dan meninggal dunia.Dalam unggahan aslinya, akun Echaa S mengeluhkan beberapa poin, mulai dari masa perawatan yang dinilai lambat, transparansi diagnosis yang dianggap tertutup, hingga sulitnya proses rujukan ke faskes yang lebih tinggi.
Klarifikasi dan Hak Jawab Pihak RSUD Raja Tombolotutu;
Menanggapi postingan yang viral tersebut, manajemen RSUD Raja Tombolotutu segera mengeluarkan pernyataan resmi guna meluruskan informasi agar tidak terjadi kesalahpahaman publik. Ada tiga poin utama yang disampaikan pihak rumah sakit:
Masa Perawatan:
Berdasarkan rekam medis, pasien dirawat selama 5 hari (9–14 April), bukan 1 minggu seperti yang dinarasikan di media sosial.
Rencana Rujukan:
Pihak RS menegaskan tidak pernah menahan rujukan. Dokter spesialis justru menyarankan rujukan untuk tes BMA (Bone Marrow Aspiration) setelah kondisi HB pasien stabil melalui transfusi darah.
Penyebab Penundaan:
Mobilisasi rujukan sempat tertunda atas permintaan dan kesepakatan pihak keluarga yang meminta transfusi darah diselesaikan terlebih dahulu di RSUD Raja Tombolotutu.
Pihak RSUD juga mengimbau netizen agar lebih bijak bermedia sosial dan menegaskan bahwa pintu komunikasi serta unit pengaduan/humas selalu terbuka secara kekeluargaan untuk transparansi data.
Orang Tua Almarhumah Sebut Keterangan RS Tak Sesuai Fakta
Tidak berselang lama setelah pihak rumah sakit memberikan klarifikasi, orang tua kandung almarhumah Aulia Nursyifa langsung angkat bicara. Menurutnya, kronologi yang disampaikan pihak RS tidak sesuai dengan kenyataan yang mereka alami di lapangan.”Keterangan yang Anda berikan tidak sesuai fakta yang saya alami waktu itu, makanya anak saya Echaa S sampai marah dan kecewa,” tulis orang tua almarhumah.
Pihak keluarga membeberkan beberapa poin kekecewaan mereka ;
- Minta Diagnosis Dipersulit : Keluarga mengaku kesulitan mendapatkan kejelasan diagnosis penyakit anak mereka dari tim medis.
- Hasil Cek Lab Tidak Diberikan: Pada hari kedua, orang tua sempat meminta hasil pengecekan HB dan trombosit kepada salah satu dokter yang bertugas, namun tidak langsung diberikan dan hanya dijanjikan secara lisan.
- Alasan Rujukan Berbelit: Keluarga merasa syarat dan alasan untuk mendapatkan rujukan dipersulit, padahal kondisi pasien terus menurun drastis. Berdasarkan keterangan keluarga, trombosit pasien drop dari 60 ribu menjadi 26 ribu, dan setibanya di Palu bahkan tersisa 8 ribu.
Sorotan Netizen terhadap Pelayanan RSUD RAJA TOMBOLOTUTU
Kasus ini pun memicu gelombang komentar dari masyarakat yang mengaku pernah mengalami hal serupa. Salah satunya akun FB Intan Rafi yang mengeluhkan lambatnya penyerahan hasil rontgen hingga berhari-hari. Hingga berita ini diturunkan, simpang siur kronologi antara rekam medis pihak rumah sakit dan kesaksian langsung dari keluarga pasien masih menjadi sorotan hangat masyarakat Parigi Moutong. Warga berharap adanya evaluasi mendalam terkait transparansi komunikasi antara tenaga medis dan keluarga pasien agar kejadian serupa tidak terulang kembali

